Konser Sang Guru

Aug 16,2017


Di banyak kesempatan bersua dengan guru-guru matematika, saya sering melepas anekdot mengenai pekerjaan mereka. “Salah satu pekerjaan yang paling enak adalah guru olahraga dan guru matematika. Jika lagi malas ngajar, guru olahraga bisa melempar bola ke arah siswa, sedang guru matematika cukup dengan menuliskan lima soal yang agak sulit penyelesaiannya. Kemudian, guru matematika bisa meninggalkan mereka. Lima menit jelang berakhirnya jam pelajaran, guru bisa masuk kembali, menanyakan hasilnya. Ketika menyaksikan siswanya belum selesai mengerjakan, guru menutup pelajaran dengan meminta mereka menyelesaikannya di rumah. Selesailah satu pelajaran. Tanpa pesan, tanpa kesan.”

Hanya senyum yang saya dapatkan di setiap kali melemparnya. Tak ada respon atau pembelaan dari mereka. Seakan mereka mengiyakannya, dan pernah melakukannya.

Lama saya merenung, memikirkan bagaimana sebaiknya seorang guru matematika mengorkestrai kelasnya. Sekian lama ngendon di pikiran, saya menemukan bayangannya saat menyaksikan rekaman konser sebuah grup band, dari layar TV di rumah.

Meski hanya menyaksikan lewat layar kaca, saya asik menikmatinya. Dua kali 50 menit tak terasa. Saya tak beranjak. Sesekali, saya ikut bernyanyi, bahkan tak jarang ikut bergoyang. Saya larut dalam pertunjukkan itu.

Usai menyaksikannya, saya membayangkan seorang guru matematika sedang konser tunggal di depan kelas. Guru masuk kelas dengan ceria, hendak ketemu fans, para siswanya. Guru siap tampil all out, menyerahkan diri sepenuhnya untuk tugas dan kewajibannya. Disisihkannya semua hal yang berpotensi mengganggu konsentrasi dan kelancaran pertunjukannya. Telepon seluler yang biasanya tak pernah lepas dari genggaman, kini disingkirkan, ditinggalkan.

Konserpun dimulai. Guru itu memulai pelajaran dengan riang, memotivasi dan mengajak siswa terlibat dalam pembelajaran. Saya jadi ingat dengan apa yang dilakukan sang vokalis band di awal pertunjukkan. Penonton yang semula duduk, diajaknya berdiri. Sang vokalis meyakinkan bahwa dengan berdiri, pertunjukan akan dapat dinikmati sampai hati.

Sejak awal, si guru telah mengajak siswa berinteraksi, lewat sapaan ringan, atau pertanyaan yang menggelitik siswa untuk memikirkan jawabannya. Jika tidak demikian, guru mengirimkan sebentuk perhatian pada siswanya melalui pandangan yang dapat meyakinkan, bahwa mereka aman dan nyaman seruangan dengannya.

Pola interaksi yang demikian, juga saya temukan di diri sang vokalis selama pertunjukan. Tak henti-hentinya, sang vokalis mengajak audiensnya berinteraksi di sepanjang pertunjukan. Tak tampak lelah di wajah dan lakunya. Vokalnya juga selalu terjaga sampai lagu terakhir dilantunkan.

Respon penonton dalam menyambut setiap ajakan sang vokalis, juga tak kalah antusias. Tak jarang suara penonton menggema, memenuhi ruangan, mengikuti lagu yang dibawakan. Bahkan, di beberapa momen, saat sang vokalis dan pemain musiknya diam, penonton merasa diberi ruang untuk mengisi pertunjukan. Dan di saat itu, panggung jadi milik penonton. Dan sang vokalis, hanya memberi isyarat dan mengarahkan penonton lewat gestur tubuh dan mimik wajah.

Kembali ke konser sang guru. Pembelajaran baru berjalan 20 menit, sang guru sudah mampu memetakan kompetensi setiap siswanya terkait topik yang sedang dipelajari. Hal ini amat membantunya dalam memutuskan jenis bantuan yang sesuai untuk masing-masing siswa. Dan saya jadi ingat dengan ucapan sang vokalis pada penontonnya, “ini angkatan 90-an, yang kanan anak-anak baru, kalau bagian ini pemerhati musik.” Kata-kata sang vokalis tersebut didasarkan pada kemampuan para penonton dalam menirukan lagu-lagu yang dibawakannya.

Kemudian, sang guru mempersilahkan salah satu siswanya mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas. Sang guru menyerahkan waktu dan tempat sepenuhnya untuk siswa tersebut. Siswa berekspresi, tanpa intervensi. Setelahnya, guru bersama siswa semuanya membahas hasil perkerjaannya untuk mendapatkan kebenaran. Kebenaran yang diperoleh bukan dari menyalahkan, tapi berangkat dari kesadaran bahwa belajar adalah proses menuju kebenaran.

Konser sang gurupun ditutup dengan ungkapan, bahwa “matematika amat sangat memperhatikan semesta pembicaraan, maka di kehidupan juga harus memperhatikan empan-papan.” Hal itu, tak kalah dengan ucapan sang vokalis di penutup pertunjukan, “juli ada pemilihan presiden, pilih yang wise, guys.”

Nyatanya, konser sang guru itu hanya terjadi di ruang imajinasi saya. Di realita, tak jarang, saya menjumpai proses pembelajaran matematika yang “tak indah” di semesta para siswa. Kesan garing dan kaku, amat melekat di sebagian besar pembelajaran matematika. Para pengajarnya, sering kali gagal mengorkestrai kelasnya.

Sepuluh menit kelas matematika berjalan, beberapa siswa sudah angop, bosan mengikuti pelajaran. Sementara yang lainnya, merasakan waktu seakan berhenti berputar. Mereka tak menemukan kenyamanan dalam belajar. Bahka tak jarang terselip do’a, “semoga guru/dosenku punya pekerjaan lain yang mengejar-ngejar, sehingga pembelajaran cepat diakhiri, dan aku bisa segera keluar.” (Surabaya, 16 Agustus 2017)